Peran Zakat Dalam Pertumbuhan Ekonomi

Secara makro, indikator ekonomi tidak saja dilihat dari pertumbuhannya namun juga tingkat pemerataan. Pertumbuhan ekonomi berarti berapa besar jumlah barang dan jasa yang diproduksi dalam suatu wilayah perekonomian, sedangkan pemerataan berarti berapa besar barang dan jasa yang diproduksi tersebut dinikmati oleh penduduk dalam wilayah perekonomian.  Pertumbuhan ekonomi yang tinggi belum tentu menunjukkan pemerataan yang adil. Demikian juga sebaliknya pemerataan yang adil belum menunjukkan pertumbuhan yang tinggi. Secara teori keduanya harus dapat dicapai secara bersamaan, pertumbuhan yang tinggi sekaligus pemerataan yang adil.

Bila kita melihat koefisien Gini Indonesia tahun 2016 dikisaran 0,397 pada semester I dan 0,394 pada semester II (www.bps.go.id), berarti tingkat pemerataan distribusi pendapatan masih dalam kategori moderat. Kondisi ini lebih baik pada periode 2011-2014 yang mencapai 0,41. Seharusnya tingkat ketimpangan yang ideal adalah dibawah 0,3. Kondisi ini tentu memunculkan pertanyaan, mengapa tingkat ketimpangan pemerataan pendapatan masih tinggi ?

Dalam perspektif ekonomi syariah, secara makro keseimbangan distribusi pendapatan dan kekayaan dapat ditinjau pada tiga aspek, yaitu pre-production distribution, post-production distribution dan redistribution.

Pertama, pre-production distribution, yaitu distribusi barang dan jasa sebelum produksi. Untuk menilai apakah sebuah negara mempunyai arah kebijakan miningkatkan pendapatan kelompok miskin (mendistribusikan pendapatan untuk rakyat miskin), dapat dilihat pada struktur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Bila struktur APBN mengalokasikan anggarannya lebih banyak untuk program pemberdayaan masyarakat miskin maka arah kebijakan negara tersebut memang pro-poor, berpihak untuk meningkatkan kesejehteraan masyarakatnya. Namun sebaliknya, bila postur APBN nya sedikit untuk program pemberdayaan masyarakat, maka arah kebijakannya kurang memperhatikan aspek keadilan distribusi kekayaan pada kelompok miskin.

Kedua, post-production distribution, yaitu distribusi barang dan jasa setelah produksi. Terkait dengan barang dan jasa yang telah diproduksi dengan reward yang diterima oleh masing-masing faktor produksi, seperti modal dan tenaga kerja sesuai dengan kontribusi masing-masing, baik melalui mekanisme pasar maupun intenvensi pemerintah. Indikator yang digunakan adalah kebijakan Upah Minimum Kab/Kota (UMK) kepada kelompok buruh. Penetapan besaran UMK yang didasarkan pada keadilan dan kemaslahatan umum akan mendorong terciptanya pemerataan pembangunan yang baik.

Dan yang ketiga, redistribution yaitu mekanisme pendistribusian kekayaan. Mekanisme ini didasari atas motif baik adanya ancaman maupun iming-iming balasan yang akan diterima bila mengerjakannya. Misal Allah mengancam akan mengalungkan harta bagi mereka yang bakhil “Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Sebenarnya kebakhialan itu akan dikalungkan di lehernya kelak pada hari kiamat…..” (QS Ali Imran : 180). Allah akan memberikan ganjaran (reward) bagi orang yang menafkahkan hartanya dijalan Allah sebanyak 700 kali lipat “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. ……” (QS Al Baqarah : 261).

Berdasarkan sifatnya, instrumen redistribusi harta, pendapatan dan kekayaan dalam islam ada yang bersifat wajib dan sukarela (sunah). Instrumen yang bersifat wajib dikenal dengan zakat. Zakat adalah sejumlah harta tertentu yang dikeluarkan oleh orang tertentu dan hanya untuk orang tertentu.  Firman Allah SWT “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (QS At Taubah : 103). Berdasarkan ayat tersebut jelas bahwa untuk menjamin kepastian distribusi harta diperintahkan untuk “khut” (ambil), yang artinya ada petugas untuk mengambil dan selanjutnya didistribusikan. Berapa jumlah yang diambil, sesuai dengan jenis harta yang dizakatinya. Berapa jumlah yang didistribusikan, tergantung kebutuhan orang yang berhak menerima (QS At Taubah : 60). Ada yang kebutuhannya bersifat darurat (fakir dan miskin), ada yang bersifat penting (gharim, mualaf, fisabilillah, ibnu sabil), ada yang tidak prioritas (hamba sahaya) dan ada yang bersifat strategis (amil).

Sedangkan instrumen yang bersifat sukarela (sunah) adalah infak, sedekah dan wakaf. Jika zakat besaran, kadar, waktu dan peruntukannya ditentukan, sedangkan infak, sedekah dan wakaf besarannya, kadarnya, waktunya dan peruntukannya tidak terikat. Bebas kapanpun, berapapun dan untuk apapun (sesuai niat yang melakukannya).

Kedua instrumen ini (wajib dan sukarela) menjamin terciptanya aliran harta, pendapatan dan kekayaan dari kelompok kaya kepada kelompok miskin. Harta, pendapatan dan kekayaan tidak hanya berada pada satu kelompok yang punya saja. Upaya redistribusi harta ini mempunyai kaitan dengan peningkatan pendapatan kelompok yang dibantunya. Menurut beberapa penelitian menunjukkan bahwa pemberian dana zakat mempunyai pengaruh positif terhadap peningkatan pendapatan mustahik sebesar 10,1%.

Dengan demikian, mendorong pembangunan zakat, infak, wakaf (ZISWAF) pada hakekatnya merupakan upaya untuk meredistribusi kembali aset dan kekayaan, agar pertumbuhan ekonomi yang terjadi benar-benar dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat. Selain itu, untuk pembangunan ZISWAF ini juga merupakan upaya untuk mengkoreksi persoalan-persoalan ketidakadilan yang mungkin muncul pada fase pra dan pasca produksi.

 

Peran zakat dalam pertumbuhan ekonomi

Secara umum dana zakat yang diterima oleh mustahik akan meningkatkan daya belinya. Peningkatan ini akan mendorong peningkatan produksi barang dan jasa. Peningkatan ini akan mendorong peningkatan kapasitas produksi, yang pada akhirnya secara agregrat akan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Lalu, adakah peran zakat dalam perekonomian ? Beberapa peran zakat dalam perekonomian adalah :

  1. Mendorong pemilik harta untuk kreatif mengelola hartanya

Jika seseorang mempunyai harta selama satu tahun dan lebih dari nishab, maka wajib mengeluarkan zakatnya. Syarat harta yang dikenakan zakat adalah lebih dari kebutuhan dan hutang. Bila harta diam saja tidak diupayakan untuk dikembangkan, maka berpotensi untuk kena zakat. Namun bila hartanya diputar untuk investasi usaha, maka harta yang dipakai untk investasi merupakan harta pokok yang dikurangkan dari perhitungan zakat. Upaya ini tentu saja akan mendorong produksi sehingga perputaran uang dimasyarakat akan meningkat, yang pada akhirnya akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

  1. Mendorong berbisnis yang baik dan benar

Syarat harta yang dizakati haruslah bersumber dari hasil yang baik dan benar (halalan thoyiban). Oleh karena itu Islam memandang, harta haruslah digunakan untuk hal-hal yang baik. Bila hartanya diperoleh dari hal yang tidak baik, bukan saja merugikan diri sendiri (karena hartanya tidak memenuhi syarat untuk dizakati) juga merugikan orang lain (hartanya diinvestasikan untuk usaha yang tidak baik, misal minuman keras). Zakat memang menjadi pembersih harta, tetapi tidak membersihkan harta yang diperoleh secara batil. Maka hal ini akan mendorong pemilik harta untuk menginvestasikan hartanya bukan sekedar apsek untung saja, namun juga dengan memperhatikan nilai-nilai etika bisnis.

  1. Mendorong mempercepat pemerataan pendapatan

Pengelolaan zakat yang baik dan alokasi yang tepat sasaran, akan meningkatkan kepercayaan pada pengelola zakat. Peningkatan kepercayaan ini akan mendorong semakin banyaknya masyarakatnya menyalurkan dana zakatnya kepada mustahik melalui amil. Kondisi ini tentu akan mempercepat pemerataan distribusi harta, pendapatan dan kekayaan. Sehingga kemiskinan menjadi berkurang, kesenjangan semakin menurun dan kesejahteraan semakin meningkat.

  1. Mendorong tumbuh kembangnya sektor riil

Kegiatan pendistribusian zakat dalam bentuk usaha produktif akan memberikan efek ganda dibandingkan dengan kegiatan pendistribusian dalam bentuk konsumtif, yaitu meningkatkan pendapatan mustahik dan berdampak pada pertumbuhan ekonomi secara makro. Sektor moneter walaupun asetnya tertinggi didunia, namun rapuh dan rentan pada perubahan kondisi ekonomi. Berbeda dengan sektor riil, yang lebih tahan pada perubahan ekonomi. Untuk itu pemberian zakat untuk membantu mustahik yang dalam kategori pelaku UMKM, sangatlah mendorong arus perputaran barang dan jasa pada perekonomian. Meningkatnya arus perputaran barang dan jasa akan mendorong pertumbuhan ekonomi secara berkesinambungan.

  1. Mendorong percepatan pembangunan negara

Ketidakmampuan memdapatkan akses kesehatan, pendidikan, sosial dan ekonomi, telah melahirkan kemiskinan di suatu negara. Kesehatan dan pendidikan adalah modal dasar agar memiliki SDM unggul. Negara punya peran dan tanggungjawab untuk mensejahterakan dan membuat SDMnya unggul. Namun masih sering dijumpai ketimpangan, tidak meratanya pembangunan antara stu daerah dengan daerah lainnya. Zakat sebagai instrumen redistribusi harta sangat berperan untuk mempercepat kemudahan akses memperoleh kesehatan, pendidikan, sosial dan ekonomi. Dengan demikian diharapkan dapat memutus rantai kemiskinan dan mempercepat kesejahteraan rakyat.

Oleh : Cahyo Budi Santoso, SE., M.Ak (Dosen Universitas Riau Kepulauan dan Wakil Ketua 3 BAZNAS Provinsi Kepulauan Riau)