BAZNAS Siapkan Strategi Kebangkitan Zakat

strategi

Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) merumuskan strategi kebangkitan zakatsecara nasional dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) BAZNAS Provinsi, Selasa-Kamis (10-12 Mei 2016) di Hotel Milenium, Jakarta. BAZNAS merumuskan kebangkitan zakat sebagai instrumen penting dalam memoderasikan  kesenjangan sosial  yang mencapai angka tertinggi belakangan ini. Rasio Gini sudah mencapai angka 0,40 sejak 2010 dan terus merayap naik hingga 0,42 pada 2014, meskipun kemudian berhasil diturunkan kembali ke angka 0, 40 pada tahun 2015 oleh Pemetintah Jokowi.  Ini artinya, pada tahun 2015 1% WNI terkaya menguasai 40% aset nasional. “Tampaknya ada yang keliru dalam desain pembangunan ekonomi dan sosial nasional selama era reformasi. Di bawah Presiden Soeharto yg memimpin Indonesia selama 32 tahun secara otoriter dan dekat dengan kroni-kroni konglomerat, rasio Gini ini tidak pernah melampaui 0,35.

“Kesenjangan adalah sunnatullah. Tanpa kesenjangan proses ekonomi  dàn sosial akan sulit sekali terjadinya. Yang penting kesenjangan harus dikendalikan agar tidak ekstrim dan menimbulkan kecemburian sosial berlebihan serta masalah-masalah sosial turunannya.

Dàlam kaitan ini ada baiknya Indonesia belajar dari Jerman, Australia, Korsel, Taiwan, dan Perancis yang bisa maju dengan kesenjangan relatif wajar.

Di samping itu, jika dikelola dengan baik, zakat bisa menjadi pilar penting ekonomi umat untuk memoderasikan kesenjangan sosial.

Menurut sebuah hasil penelitian kerjasama BAZNAS-IPB yang didasarkan pada Produk Domestik Bruto (PDB) 2010, potensi zakat di Indonesa adalah Rp217 Trilyun. Jika diekstrapolasikan dengan mempertimbangkan pertumbuhan ekonomi nasional tahun-tahun aesudahnya, maka potensi tersebut pada akhir 2015 sudah mencapai  Rp286 Trilyun. Jika zakat perusahaan swasta dan BUMN yang masih amat  sulit merealisasikannya dikeluarkan, maka potensi zakat 2015 menjadi 131,4 triliun. Barangkali inilah pangka potensi zakat yang lebih realistis bisa dihimpun dalam jangka menengah.

Diperkirakan zakat, infak, dan sedekah yg berhasil dihimpun pada tahun 2015 baru sekitar Rp5 Trilyun, jauh dari potensinya. Kenapa?

Sàlah satu penyebabnya adalah karena zakat masih merupakan rukun Islam yang paling diabaikan. Padahal dalam Al-qur’an perintah mendirikan sholat hampir selalu diiringi dengan perintah menunaikan zakat (diulang dalam 32 ayat) dan surat Al-Ma’un mengecam keras sholat yang tidak  berbuah kesalihan sosial.

Oleh : Ketua BAZNAS, Prof. Dr. Bambang Sudibyo, MBA, CA